Sebagai makhluk yang menduduki puncak spesies, tentunya kita selalu berupaya memecahkan persoalan-persoalan yang ada. Tidak nyaman rasanya bila persoalan-persoalan yang ada belum ditemukan jawabanya. Bahkan sebagian dari kita tidak hanya mencari jawaban tetapi juga berupaya untuk menemukan kebenaran. Keinginan dalam pencarian kebenaran tertanam secara alamiah di dalam jiwa manusia. Hal ini tentu saja berkaitan dengan manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang memiliki kapabilitas untuk berpikir secara kritis dan rasional.
Pencarian kebenaran sangat penting karena kebenaran dianggap mendorong terciptanya kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pandangan semacam ini mengakar dalam benak setiap orang, karena tanpa kebenaran, manusia mengalami kekosongan nilai pada dirinya sendiri.
Tetapi, bagaimana cara kita mencapai kebenaran itu? Tentu, ada beragam upaya untuk menjawab pertanyaan semacam itu. Ada beragam jalan yang memungkinkan kita sampai pada kebenaran, seperti sains, agama, tradisi/budaya, dan seterusnya. Namun, menurut hemat saya kebenaran baru bernilai apabila ia telah diragukan. Kita menyebut ini dengan sikap skeptis. Sikap skeptis ini berfungsi untuk menggali akar tunggal kebenaran.
Namun bagaimana sikap skeptis itu bisa mengantarkan kita pada kebenaran?