Saat ini, kata ‘gosip’ memiliki konotasi negatif. Itu dianggap sebagai pembicaraan yang tidak senonoh, tidak bermoral, dan seringkali melibatkan penyebaran informasi yang tidak seharusnya disebarkan dan bahkan mungkin tidak benar.
Gosip juga secara tradisional dianggap sebagai sesuatu yang dilakukan oleh perempuan.
Minggu lalu, Paus Fransiskus, kepala Gereja Katolik Roma, diduga memarahi sekelompok pendeta muda karena ‘berbicara buruk’ di paroki dan jemaat karena ‘gosip adalah urusan perempuan.’ Hanya beberapa hari sebelumnya, seorang pria yang sekarang mencalonkan diri sebagai Senat di Minnesota mengeluh dalam sebuah wawancara bahwa “perempuan terlalu banyak bicara.”
Gagasan bahwa perempuan lebih banyak bicara daripada laki-laki, terutama tentang hal-hal yang konyol dan tidak penting, adalah stereotip umum. Hal ini bahkan tertanam dalam ungkapan-ungkapan linguistik di seluruh dunia. Dalam bahasa Jerman, ada pepatah yang berkata “satu laki-laki, satu kata — satu perempuan, satu kamus.” Sementara itu, dalam bahasa Jepang, ada pepatah, “di mana ada perempuan dan angsa, di situ ada kebisingan.”