Esensi Pendidikan: Antara Nilai dan Ilmu

Author: Moh Rasyid

Untuk memahami apakah tujuan pendidikan itu untuk mencari nilai atau ilmu, kiranya terlebih dahulu kita harus memahami apa itu nilai dan apa itu ilmu. Memang kedua hal ini terlihat sepele, tetapi hal sepele bukan berarti tidak berpengaruh—terutama dalam akademis.

Theodorson Pelly (1994) berpendapat bahwa nilai merupakan "sesuatu—abstrak yang di jadikan pedoman prinsip-prinsip umum dalam bertindak dan bertingkah laku." Keterikatan seseorang atau kelompok terhadap suatu nilai akademik menurut Theodorson relatif sangat kuat.

Nilai akademik menjadi salah satu faktor penting dalam pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai di bangku kuliah sebagai bentuk dari evalusi kelulusan—kita cenderung mengaksentuasikan nilai akademik kita sebagai pertimbangan keberhasilan. Ini tidaklah salah. Hanya saja ketika berbicara tentang nilai akademik, metode pembelajaran kita hanya terfokus pada hasil semata, sehingga proses dalam mencapai hasil tersebut terabaikan; padahal proses merupakan esensi dari pendidikan itu sendiri—membaca, menulis, dan berdiskusi.

Namun ada satu pertanyaan menarik, “Apa yang sebenarnya kita cari di bangku pendidikan selama ini? Apa sekadar hanya ingin lulus dengan nilai terbaik dan meraih titel?” Menurut saya, jawaban dari pertanyaan ini adalah "tidak." Mungkin lazim untuk merasa bangga ketika kita sudah mendapat titel di belakang nama, tetapi pernahkah kita berpikir betapa beratnya gelar ini sebagai bentuk dari amanah bahwa kita telah terdidik? Bisa dibayangkan, kalau kita hanya sekadar mengejar nilai 4.00—tetapi tidak memahami atau bahkan melupakan proses pendidikan seperti yang saya sebut di atas.